Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kepada si kepala batu

Hai, apa kabar? Maaf sebelumnya, mungkin ini akan terdengar sangat cringe. Lebih baik jangan dilanjut. Masih ingat siapa aku? masih ingat memori itu? bagaimana pagi mu setelah malam itu? ya malam dimana kamu sadar kalau bukan lagi sosok ku yang kamu butuhkan, malam dimana akhirnya kamu putuskan menyudahi semuanya.  bagaimana harimu? iya hari dimana kamu bahagia sebab tau si pengganggu ini tidak lagi disampingmu. kamu masih baik-baik saja kan? setelah aku liat nyatanya begitu. Bagaimana sekarang? sudah berhasil dapatkan dia yang sosoknya kamu sesali kepergiannya dulu hanya karena kamu memilihku? atau bagaimana responnya setelah tau kamu menyapanya lagi mencoba mencari topik pembicaraan kesana kemari, menanyakan keaadaannya, hari-harinya atau bahkan sekedar mengajaknya pergi keluar setelah pulang kampus. berhasil? semoga saja ya. Maaf aku lancang, aku rindu. sebab seberapa keras aku menutupi, nyatanya aku tetap kalah dengan perasaan ini. kamu masih selalu ku sebut tiap k...

Pada Saatnya

Pada saatnya nanti, Bukan lagi kamu yang jadi penyemangat pagi saya Bukan lagi kamu yang saya kirimkan pesan singkat sekedar mengingatkan, “jangan lupa makan siang” Bukan lagi kamu yang sore harinya saya khawatirkan, “hati-hati dijalan, jangan ngebut” Bukan lagi kamu yang ketika malam datang akan saya tanya, “bagaimana harimu tadi? Berjalan lancar?” Pada saatnya nanti, Bukan lagi kamu yang kabarnya membuat saya tersenyum Bukan lagi kamu tempat saya berbagi keluh kesah tentang hari-hari berat yang mungkin datang Sebab bagimu, saya hanyalah pengganggu yang menghambat hari-harimu Pada saatnya nanti, Kamu tak perlu bertanya ada apa dengan saya, sebab nyatanya kamulah yang membentuk saya seperti ini Terima kasih kepada kamu yang paling baik menarik saya dari gelap, namun juga paling hebat datangkan luka paling pekat

Terima Kasih Mei

Teruntuk mei, Ada begitu banyak harapan yang aku gantungkan di bulan ini Ada beberapa keinginan yang ingin aku wujudkan di bulan ini Tapi, kali ini harapan dan keinginan itu mungkin tak akan pernah terjadi Teruntuk mei, Terima kasih untuk 31 hari yang paling berharga Terima kasih di bulan ini ada usia yang bertambah Terima kasih karena masih dapat melihat senyum bahagia orang-orang sekitarku Terima kasih untuk luka yang membentukku hari Dan yang terpenting, terima kasih untuk segala pelajaran yang tidak pernah di dapat pada bulan di tahun-tahun sebelumnya Teruntuk mei, Terima kasih Sampai bertemu pada hari-hari indahmu nanti

Tanpa Judul

Pada satu hati yang katanya ingin bersama Pada satu hati yang katanya akan selalu menetap Apakah benar seperti itu? Pada satu hati yang menjadi alasan bahagia Pada satu hati yang selalu ingin jadi yang terbaik Apakah masih seperti itu rasamu? Pada satu hati yang raganya masih ingin ku gapai Pada satu hati yang tangannya selalu ingin ku genggam Ada apa hari ini? Apa yang kau pikirkan semalam suntuk? Apa yang merubahmu pagi tadi? Pada satu hati yang mungkin rasamu memudar Pada satu hati   yang akan selalu jadi tujuan Coba kau tanya lagi, apa yang sedang dibutuhkan? Karena   aku, butuh jawaban

Teruntuk...

Teruntuk kamu dan siapa saja Hanya sedikit dariku Jika hari mu membosankan, pergilah keluar Jika sekitar mu terlihat menjengkelkan, diam lah untuk menyendiri Jika kamu sedang tidak mengerti tentang dirimu sendiri, pejamkan mata sejenak Hari mu mungkin tidak berat, hati mu yang gundah mungkin jawabannya

Senja Kala Itu

Senja kala itu membawa langkah seorang perempuan entah kemana Saat itu matanya sembab, terlihat banyak kesedihan dari matanya entah karena apa Pada setiap langkahnya yang tak tau arah, pikirannya berlari entah kemana Hatinya rapuh Pikirannya kusut Namun bibirnya tetap bergeming Senja kala itu membawa beribu-ribu pertanyaan “Ada apa?” “Ada siapa?” “Mengapa aku lagi?” batinnya berucap Ingin rasanya ia menangis tanpa sebab lalu berteriak pada semua, “semesta kenapa aku lagi?” Hatinya kacau pada satu ucap kalimat, “maaf saya harus pergi”.